[15] Hawa panas yang menyengat, tak terasa begitu lebih dalam ke kawasan TNTP, melalui Sungai Sekonyer di sisi utara. Kerimbunan pohon hutan hujan tropis bagai payung teduh mengusir terik matahari. Di kanan kiri sungai, berbagai jenis tanaman rawa tumbuh lebat.
[16] Owa-owa (Hylobates agilis) dan bekantan (Nasalis larvatus), tak terlihat di siang hari. Di sore hari, mereka beraksi di ketinggian pohon ditingkahi suara-suara binatang hutan dan burung-burung liar.
[17] Di bagian luar TNTP, berdiri pos-pos polisi antipenebangan liar dan penambangan liar. Di atas pondok kayu sederhana, para sukarelawan yang dibayar OFI sebesar Rp 20.000 hingga Rp 50.000 per hari (bukan per bulan) bergantian jaga.
[18] Sejak 2001-2002, penebangan liar di kawasan TNTP, khususnya yang berada di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat, mampu ditekan. Namun, di hulu Sekonyer penambangan emas tanpa izin (PETI) masih terus merusak lingkungan.
[19] Penambangan liar itulah yang sejak tahun 2001 mengeruhkan Sungai Sekonyer. Namun, kekeruhan itu tak lagi dijumpai setelah perahu berbelok di simpang tiga kanan Sungai Sekonyer. Di sanalah titik pertemuan air keruh kecoklatan dengan warna asli air Sekonyer, yang bening kehitam-hitaman.
[20] Setelah sekitar satu jam, speed boat mendarat di dermaga kayu Camp Leakey. Perjalanan dilanjutkan meniti papan kayu ulin sepanjang 300 meter tiba di kamp penelitian.
[21] Di kamp inilah, aktris tenar Julia Robert pernah bermain dalam film berdurasi satu jam tentang kehidupan orang utan di alam liar. Orang utan jantan bernama Kosasih, beruntung berpasangan dengan Julia.
[22] Oleh staf Camp Leakey, Kosasih dikenal sebagai pejantan tangguh yang menjadi "raja". Saingan beratnya adalah Win, bukan hanya soal teritorial namun juga simpati betina "tercantik" di TNTP, Siswi.
[23] Untuk melihat tingkah polah orang utan di TNTP, setidaknya ada dua lokasi pertemuan yang umum terjadi. Di kamp tempat penyimpanan makanan, sekaligus kantor OFI dan di tempat pemberian makanan yang berjarak sekitar 1,5 kilometer.
[24] Lokasi pemberian makanan dapat ditempuh berjalan kaki meniti kayu ulin di tengah kerimbunan hutan. Selama perjalanan, Anda dapat melihat aktivitas orang utan yang sedang mencari makan atau bertengger di sarangnya.
[25] Lokasi lain yang dapat dikunjungi untuk melihat orang utan dan satwa liar, selain di Camp Leakey adalah Pos Tanjung Harapan dan Pondok Tanggui. Ada beberapa alternatif penginapan untuk bermalam, seperti di Hotel Rimba Lodge di TNTP, Hotel Ecolodge di tepi Sungai Sekonyer, atau di wisma tamu TNTP.
[26] SAYANG, populasi orang utan terus menyusut seiring perilaku manusia. Pengurangan luasan hutan menjadi inti dari seluruh persoalan, baik karena penebangan liar, penambangan liar, maupun konversi lahan.
[27] Populasi orang utan di hutan Kalimantan diperkirakan sekitar 58.000 ekor dan orang utan Sumatra (Pongo abelii) di hutan Sumatra diperkirakan tinggal 7.000 ekor.
[28] Jumlah tersebut diperkirakan akan terus menyusut 1.000 ekor per tahunnya. Tanpa upaya serius, maka manusia hanya akan melihat orang utan di habitat palsunya: kebun binatang.